Modus Anomali (2012)

Modus-anomali-film-indonesia-poster

Seorang pria yang kemudian kita tahu bernama John Evans (Rio Dewanto) muncul ditengah hutan setelah terkubur hidup-hidup, ia kemudian mengambil telepon selular dan menghubungi nomer darurat 112, ketika operator nomer darurat menanyakan nama pria tadi, seketika ia kebingungan dan menemukan bahwa ia telah hilang ingatan. Dalam keadaan tersebut, pria menemukan di dalam dompetnya terdapat foto yang diduga merupakan foto istri (Hannah Al Rasyid) dan anak-anaknya (Izzati Isman dan Aridh Tritama), ia pun menyusuri hutan dan menemukan hal-hal yang membawanya pada titik-titik tertentu. 

Dari sisi penonton, tentu sulit untuk begitu saja percaya jika memang John merupakan orang yang ia kira, sudah terlalu banyak referensi dari film yang bisa diambil. Lalu apakah John sendiri harus percaya begitu saja bahwa ia mempunyai keluarga? Keadaan amnesia yang dialami karakter Paige dalam film romantis yang belum ini tayang,”The Vow” dimana ia tidak begitu saja percaya pada suaminya terasa lebih masuk akal dibanding keadaan John yang langsung percaya bahwa ia punya istri anak, apalagi meraung-raung menyatakan menyesal tidak bisa menjaga istri dan anak-anaknya, regardless The Vow didasarkan dari kisah nyata.

Walaupun sebelumnya saya sudah banyak mendengar diskusi-diskusi yang ada tentang kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi dalam film ini (dimana diskusi-diskusi tersebut masih perkiraan belaka karena itulah saya mendengarkan) dalam sekitar 30 menit pertama saya merasa film ini masih sangat menjanjikan, menegangkan dan dapat mengalahkan hal-hal yang sudah saya dengar tentang film ini. Namun setelah sekitar 30 menit hal-hal yang ada di dalamnya tidak lagi terasa menegangkan, setelah didahului penampakan-penampakan palsu dan kemunculan sosok yang kadang mengejar, kadang dikejar yang setelah diulang-ulang, tidak lagi menjadi mendebarkan. 

Saya sempat mengira film ini akan mengambil alur yang non-linear, bahkan di beberapa bagian sampai akhir film saya memperhatikan pakaian dan bekas luka dari John untuk memastikan alurnya yang ternyata memang linear. Hal yang berbeda jika kita bandingkan dengan film-film Joko Anwar sebelumnya, “Kala” misalnya, dimana teka-teki atas beberapa peristiwa yang terjadi terjawab melalui beberapa set kilas balik, atau “Pintu Terlarang” dimana asal mula kesuksesan Gambir (sang seniman) muncul dalam bentuk kilas balik. Tidak begitu dengan “Modus Anomali” yang bisa dianggap film Joko Anwar paling linear, yang kelinearan tersebut secara konsisten terlihat sampai pada bagian akhir. Jawaban atas apa yang terjadi pun terjawab secara linear, bukan menggunakan kilas balik, namun melalui hal yang mungkin bisa kita sebut ‘Modus selanjutnya’ melalui keluarga selanjutnya yang muncul di bagian-bagian akhir setelah modus awal.

Seperti film-film sebelumnya, kali ini pun Joko Anwar turut menampilkan universe-nya sendiri. Dan seperti halnya alur, pendekatan yang berbeda dari film-film sebelumnya ditampilkan untuk menunjukan hal itu, yang paling menonjol tentu saja penggunaan bahasa Inggris. Jelas penggunaan bahasa Inggris ini bukan tanpa risiko jika mengingat “The Raid” yang berbahasa Indonesia dengan aktor-aktor Indonesia saja bisa mengganggu penontonnya dengan pelafalan yang terserimpet dan intonasi yang kurang jelas. Apalagi world premier dari film ini dilaksanakan di SXSW (South by Southwest Film Festival) Austin, Texas dan belum lagi fokus dari aktor-aktornya yang harus terbagi antara akting dengan pelafalan bahasa Inggris yang baik, dan bahkan terlalu kaku untuk ukuran orang-orang yang sedang mengalami pengalaman survival.

Judul “Pintu Terlarang” muncul sebagai film yang direkomendasikan untuk ditonton sebelum atau sesudah menonton “Modus Anomali”. Namun bagi yang tidak ingin repot-repot menghubung-hubungkan lebih jauh dengan film sebelumnya atau repot-repot terbawa pikiran, Joko Anwar dengan baik hati seolah menawarkan jawaban atas apa yang terjadi di film ini bagi cukup dengan menonton film ini saja, dengan resiko mbak-mbak yang duduk di sebelah saya menyebut di akhir film “terlalu simple untuk Joko Anwar”. Paling tidak apa yang terjadi pada keluarga yang diduga merupakan keluarga John, dan permainan yang sedang dimainkan dapat terjawab cukup dengan menonton film sampai akhir. Walaupun, jika kita ingin menelisik sedikit lebih dalam tentang kemungkinan yang terjadi pada John Evans harus menonton “Pintu Terlarang” bagian sebelum kredit akhir dan mengaitkannya pada “Modus Anomali” di sesi ketika John mengemudi menuju modus selanjutnya, dimana John mendapat telepon yang menyebut bahwa anaknya mendapat sebuah alarm aneh, dari situ mungkin kita bisa mengira-ngira hubungan dan apa yang terjadi pada John dan keluarganya (lihat link menuju resensi-resensi lain di bawah).

Di luar bahwa “Modus Anomali” memang banyak mengandalkan kebetulan-kebetulan. Bagi penggemar film-film Joko Anwar atau paling tidak, mereka yang mengikuti terus dari “Kala” dan “Pintu Terlarang”, film ini tetap wajib ditonton. Apalagi dengan dua pendekatan dari alur dan penggunaan bahasa Inggris yang dibahas di atas, film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari dua film sebelumnya. Jelas ada yang istimewa ketika banyak yang tidak puas akan “Modus Anomali”, film ini terus menerus menjadi bahan perbincangan, baik dari cerita, akting, ataupun mengenai misteri yang ada di dalamnya, yang jika kita berdiskusi atau membaca review-review yang beredar akan membuat kita berdecak “oh iya juga yaa” atau “hmm bisa jadi seperti itu” (sesuai bahasa kebangsaan yang menonton :P -red).

65

Studio: Lifelike Pictures
Genre: Thriller
Director: Joko Anwar
Producer: Sheila Timothy
Starring: Rio Dewanto, Hannah Al Rasyid, Surya Saputra, Marsha Timothy, Izzati Amara Isman, Aridh Tritama, Sadh

Baca juga: Review Film Indonesia, Review danieldokter

Sumber gambar

21 Jump Street (2012)

Setelah Maret lalu tidak posting, akhirnya posterous ini kembali diisi dan ini post pertama setelah posterous diakuisisi twitter lhoo.. B-) (oke, terus?). Di edisi kali ini saya akan me-review “21 Jump Street”. Walaupun judulnya seperti ini, “21 Jump Street” bukanlah produksi raksasa bioskop tertentu di Indonesia dan hanya ditayangkan di bioskop tertentu saja, judul dan temanya didasarkan oleh serial TV yang populer di 80an dan mengangkat nama Johnny Depp hingga kini semua film Hollywood harus ada Johnny Depp nya.

21-jump-street

Film ini dimulai dengan flashback ke masa dimana duo jagoan kita masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah. Jenko (Channing Tatum) merupakan siswa yang populer sedangkan Schmidt merupakan siswa yang nerd dan tidak punya teman. Schmidt (Jonah Hill) seringkali menjadi korban bully bagi Jenko. Selain menjadi korban bully, masa sekolah menorekan luka sendiri bagi Schmidt ketika usahanya mengajak gadis impiannya ke prom ditolak mentah-mentah. Pun bagi Jenko yang merupakan anak yang populer dan menguasai sekolah, masa sekolah juga turut menorehkan luka baginya ketika ia terancam tidak ikut prom dan bahkan terancam tidak lulus.

Keduanya kemudian secara kebetulan bertemu kembali di akademi polisi. Jenko yang kuat secara fisik namun lemah di bidang teori mengajak Schmidt yang selalu mendapat nilai sempurna pada test tertulis namun lemah dalam tes fisik untuk berteman. Bersama bahu-membahu mereka pun lulus bersama di Police Academy. Dan pertemanan yang diawali azas manfaat tersebut berlanjut dan akan diuji selulusnya mereka dan menjadi polisi. 

Kehidupan polisi, apalagi menjadi polisi junior tidak seseru yang mereka bayangkan sebelumnya, mereka bisa lulus dari akademi namun ketika terjun di dunia sesungguhnya, kelemahan mereka yang dapat mereka akali di akademi, merusak momentum yang sebenarnya bisa mengangkat nama mereka, yaitu ketika Jenko lupa (atau memang tidak ingat isinya. red) membacakan Miranda Rights ketika melakukan penangkapan untuk pertama kalinya, dan Schmidt yang sama sekali gagal menangkap satu orangpun ketika itu. Kegagalan tersebut mengantarkan mereka ke babak baru karir kepolisian dengan dilemparnya mereka ke unit kesatuan ‘21 Jump street’, sebuah unit penyamaran yang dihidupkan kembali (sempat mati karena kurang kreatif katanya). Mereka ditugaskan untuk menyamar dan membongkar jaringan narkoba di dunia sekolah. Bagi mereka ini merupakan tantangan, yang seperti dijelaskan sebelumnya bahwa masa sekolah membawa hal-hal yang tidak begitu manis, terutama bagi Schmidt. Tantangan bukan hanya dari segi emosional saja ketika mereka lalu mendapati kenyataan bahwa masa sekolah sekarang jauh berbeda dengan masa mereka bersekolah. Bagaimanakah mereka melalui kesempatan kedua ini?

Film ini memenuhi ekspektasi saya yang dari awal ketika melihat trailernya sudah menduga bahwa filmnya bakal goblok-goblok-asik dan secara pribadi, trailernya mengingatkan saya pada film tentang security mall yang juga dibalut kekonyolan dan sedikit banyak kekerasan, “Observe and Report”. Sebuah film bertema klise sebenarnya; police undercover digawangi duo krakter polisi. Dibalik keklisean itu, banyak hal-hal yang memang tampak ‘dipaksa’ agar tidak klise, but guess what? it worked!

Selain itu “21 Jump Street” hadir bukan semata sebagai film yang goblok-goblok-kosong, nilai persahabatan pun hadir di sini melalui Jenko, yang pandai berteman dan awalnya selalu terlihat memulai pertemanan dengan asas mencari keuntungan ternyata menjunjung tinggi nilai pertemanan. Juga hal-hal seru masa sekolah yang bisa menjadi nostalgia bagi yang lama atau baru meninggalkannya. Tidak lupa beberapa kejutan manis yang salah satunya membuat penonton wanita sedikit histeris. Sebuah film yang asik untuk melepas kepenatan dan mencari fun tanpa mau ambil pusing, apalagi terjebak dengan film-film standar sebelum summer movies set.

77

Directed by: Phil Lord and Chris Miller.

Produced by: Stephen J. Cannell and Neal H. Moritz.

Starring: Jonah Hill Channing Tatum Brie Larson Dave Franco Ellie Kemper Rob Riggle Ice Cube.

Studio: Metro-Goldwyn-Mayer

Source: Wikipedia

The Artist (2011)

Dua tahun belakangan, pemenang film terbaik Oscar selalu saya review belakangan setelah pengumumannya diumumkan. Target nya sih, tahun ini mau agak beda, siapa tau film ini nanti jadi pemenang (dan saya jagokan demikian) biar penulisannya nggak bias. Saat tulisan ini dibuat, tinggal sekitar sembilan jam lagi menuju pengumuman Oscar, jadi agak-agak ngebut sebenernya tulisan ini, sambil ngikutin Final Piala Carling pula.. Baiklah, sudah dulu TMI session nya. Dimulai saja reviewnya. OSH!

—-May contain spoiler—-

The_artist

Perjalanan seorang pria, yang dengan keangkuhannya belajar memaknai kata-kata dalam bentuk suara.

Bersetting di antara 1928-1933, “The Artist” dimulai dengan memperkenalkan salah satu film bisu zaman itu (FILMBISUCEPTION!), err.. maaf, sebuah film yang menggunakan satu set orchestra langsung di ruang teather untuk mengiringi musik sepanjang film. Di film yang diperkenalkan itu, ada yang seorang aktor kawakan yang sangat menonjol, seorang aktor bertalenta natural, memesona dan sudah mahir di bidangnya bernama George Valentin (Jean Dujardin) namun di luar itu semua, George mempunyai masalah rumah tangga yang akan meledak sewaktu-waktu. Peppy Miller (Berenice Bejo), merupakan salah satu penggemar yang terkesima akan pesona George. Setelah suatu kontak tak terduga dengan George, ia memutuskan mengikuti casting dan akhirnya lulus. Di awal karirnya, Peppy yang masih mendapat peran kecil, harus berada dalam satu scene dengan George. Ketika itulah mereka saling menyadari sesuatu. 

“If that’s the future, you can have it” -George Valentin

Karir George yang sudah setel di dunia film bisu harus terganggu oleh perkembangan zaman ketika film yang menggunakan dialog mulai dipresentasikan. Entah keangkuhannya atau rasa nyamannya yang terganggu membuatnya serta merta menolak mengikuti tren. Keluar dari rumah produksi yang telah ia besarkan, George memutuskan menyutradarai dan memproduksi filmnya sendiri. Timing’s a bitch, sayang, debut penyutradaraannya harus terpaksa kandas, bukan karena filmnya jelek atau ketinggalan jaman sebenarnya, namun dikarenakan waktu release yang bersamaan dengan film hits yang dibintangi oleh Peppy Miller yang namanya semakin bersinar di dunia film, apalagi didukung dengan euforia film berdialog. Kehidupan George pun semakin hancur, ia bangkrut dan Istri nya yang selama ini memang tidak bahagia meninggalkannya. Jiwa penguntit Peppy Miller dan harga diri George Valentin lah yang selanjutnya membumbui film ini.

Bukan sekedar gaya-gayaan namun terkandung makna kenapa film ini dibuat hitam putih dan bisu. Bahkan ada scene perbincangan dimana Peppy Miller berbicara membelakangi kamera, yang membuat orang-orang yang dapat membaca gerak bibir tak bisa membaca apa yang sedang dikatakan. Bagian dimana sebelum film bersuara diperkenalkan ada bagian yang sangat smart dan membuat saya pribadi terkecoh. Dan kembali ke paragraf dua, film ini bercerita tentang bagaimana seorang pria memaknai ucapan yang ia dengar. Di mana di awal ia merendahkan teknologi film bersuara, lalu kemudian tersakiti oleh ucapan orang yang dikasihinya, dan setelahnya tersakiti pula oleh ucapan orang-orang asing di sekelilingnya.

Gesture yang lebay, dan koreografi merupakan beberapa aspek yang sangat dimaksimalkan dalam sebagai film bisu, ditambah pengarahan dari sutradara dan adu watak dari kedua pemeran utama. Menurut beberapa pihak, film ini merupakan Silent Movie for Dummies, jadi tidak perlu takut menontonnya (takut ngantuk mungkin masih perlu ya) lagipula ceritanya cendrung ringan dan menyenangkan sehingga bisa diikuti (ketiduran mungkin masih merupakan satu faktor ya). Oh iya, saya sempat mengira trailer film ini amat membuka plot dan alur film ini, namun ternyata, di luar trailer, banyak hal-hal yang lain yang kita akan temukan ketika kita menonton filmnya. Dalam keterbatasan saya terhadap film-film Oscar, saya menjagokan film ini untuk menjadi film terbaik Academy Award 2012. 

90

tokomasho:

Gutarara Sudarara!!!!

9 notes

Paranormal Activity 3 (2011)

Menjawab banyak hal yang belum terkuak di dua film sebelumnya, film ini membawa kita ke tahun 1988 ketika Katie (Chloe Csengery) dan Kristie (Jessica Tyler Brown) masih kecil dan tinggal bersama sang Ibu, Julie (Lauren Bittner). Dari kecil sampai akhir hayat, mereka tidak pernah jauh-jauh dari kamera video dan kamera video itu diperkenalkan ke rumah mereka melalui campur tangan pacar Ibunya, Dennis (Chris Smith) yang melalui kebetulan yang manis, merupakan seorang videografer. Ia pun menangkap keanehan tingkah Kristie dan keanehan-keanehan lain di rumah itu, dan di sini cerita berlanjut. 

Memang tidak ada bentuk penampakan yang aneh-aneh dengan make-up di “Paranormal Activity 3”, tampilan penampakan secara harifiah pun bisa dibilang tidak ada. Namun ada teknik pengecoh penonton yang sederhana namun brilian contohnya ketika membuka Dennis membuka lemari baju, saya sendiri sudah menduga akan keluar sesuatu karena pernah cukup kaget dengan adegan yang mirip-mirip pada “Insidious”, namun setelah beberapa detik tidak terjadi apa-apa namun tiba-tiba malah.. DOR!! (gak ada suara pistol sih sebenarnya), hal yang kemudian diulangi lagi di film ini oleh objek sejenis dengan teknik yang berbeda dan masih cukup mengagetkan.

Penggunaan efek kamera yang direkatkan oleh kipas angin (entah mungkin aslinya tidak benar-benar menggunakan kipas angin, but well..) dan sebuah lemari besar yang membuat sekat di dalam rumah yang memisahkan ruang keluarga+ruang tamu dan dapur, membuat film ini semakin menegangkan. Kita diajak mengikuti arah kamera dan dibuat degdegan ketika kamera video bergerak ke arah bilik yang satu ke bilik yang lainnya dimana pergerakan mereka yang ada di bilik yang satu tidak selalu mengikuti kecepatan kamera.

Selain hal-hal baru di atas, ada beberapa hal yang masih dipertahankan di film ini, seperti contohnya “gempa-gempaan” dan “seret-seretan” yang sudah menjadi dua dari beberapa menu wajib dari film ini, namun hal-hal lama tersebut masih terasa fun apalagi setelah dikombinasikan dengan hal-hal baru yang telah disebutkan terlebih dahulu, ditambah penempatan cast yang brilian dan akting yang natural.

Agak tertebak bagian-bagian akhir dari film ini ketika suatu keputusan malah membawa kemudian membawa tangan manusia untuk ikut serta dalam teror, yang kemudian sedikit mengubah bentuk dari film ini. Namun hal itulah yang akhirnya menjawab segala pertanyaan yang tidak terjawab di dua film terdahulu.

Cukup melelahkan memang jika nanti kita “dipaksa” harus menonton yang ke-4. Namun kita harus menerima kenyataan (apeu) bahwa memang sudah merupakan kebiasaan produk Hollywood meneruskan sequelnya jika suatu franchise masih menghasilkan, apalagi melihat dari masih adanya cerita yang bisa ditarik lagi dari ketiga pendahulunya terutama dari Paranormal Activity 3. Well kita tidak bisa meragukan bisa-bisanya orang dalam menarik-narik cerita bukan?

80

Directed by: Henry Joost, Ariel Schulman
Produced by: Oren Peli, Jason Blum, Steven Scheider, Akiva Goldsman
Written by: Christopher B. Landon
Distributed by: Paramount Pictures

1 note

The Kick (2011)

Sebuah film yang harus saya tonton dua kali, yaitu ketika press-screening dan event nonbar BltizClub di malam pergantian tahun. Untuk selanjutnya mungkin sebulan sekali akan saya usahakan untuk me-review film-film nonbar, apalagi kalau nontonnya dua kali seperti ini, agak gimana kalau gak bisa ditulis gak? hmm..

The-kick-poster

“The Kick” dimulai dengan memperkenalkan dua pasangan Tae Kwon Doin, Moon (Cho Jae-hyun) dan Yun Mi-ja (Yea Ji-won) masih muda dan bertanding di arena Olimpiade. Bagi saya pribadi, sebagai penyuka tayangan olah raga dan film-film bertemakan olah raga, intro dalam di depan ini merupakan scene yang difavoritkan. Menggambarkan akan penjurian subjektif dan keculasan yang banyak terjadi dalam dunia olah raga bela diri. Secara khusus lagi, bagian awal ini mengingatkan pada kasus karateka Indonesia yang cukup mencoreng nama Indonesia dalam Sea Games lalu.

Cerita kemudian melaju jauh ke depan ketika keluarga Master Moon bermigrasi dari Korea ke Thailand karena suatu hal. Membalaskan cita-citanya yang tak terwujud ketika gagal meraih emas, digambarkan Moon memimpin keluarganya dengan keras, semi-militer. Suatu hari tanpa disengaja seluruh anggota keluarga, walaupun berada di dua tempat yang berbeda bergesekan dengan gembong pencuri Kris pusaka bernilai jutaan dolar (Kris jutaan dolar namun anehnya kemudian dipakai oleh sang kolektor untuk bertarung). Kris kemudian terselamatkan, namun gagalnya pencurian Kris pusaka telah menanamkan dendam bagi sang otak pencurian. Seperti peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, selain ingin niatan awalnya mencuri Kris terlaksana, ia pun ingin membalaskan dendam pada keluarga tersebut. Polemik berlanjut pada gesekan-gesekan selanjutnya yang juga melibatkan konflik dalam keluarga.

Dari plot resmi dan membandingkan dengan filmnya, dapat diasumsikan bahwa sejak awal pihak produksi ingin memaksakan “The Kick” ini memiliki keunikan dengan menampilkan empat gaya bela diri yang berbeda-beda. Namun di film ini, yang lebih ditonjolkan adalah gaya bela diri K-Pop yang dikuasai Tae-yang (Na Tae-ju) sedangkan gaya sepak bola yang dimiliki adiknya Tae-mi (Kim Gyeong-suk) hanya ditunjukan ketika sedang mendrible bola di dalam rumah, sang ibu yang disebut memiliki bela diri gaya peralatan dapur, terlihat seperti memakai peralatan-peralatan itu hanya dikarenakan situasi, bukan benar-benar karena ahli bela diri menggunakan peralatan dapur. Agak kontradiksi dengan intro di awal sang Ibu yang kita tahu merupakan juara olimpiade tidak terlihat kemampuannya di sini, padahal seharusnya cukuplah sang ibu menggunakan jurus-jurus Tae Kwon Do nya untuk melawan gerombolan penjahat. Dan kekuatan kepala sang anak terkecil hanya ditunjukan oleh kebiasaannya menyeruduk. Dengan kata lain tidak sesuai apa yang digambarkan di awal Jika memang mau menguatkan gaya-gaya unik bela diri dari masing-masing anggota keluarga mungkin tidak ada salahnya jika masing-masing secara eksplisit menyebutkan nama jurus atau mungkin menggunakan sedikit efek grafikal dibuat komikal, toh film ini sudah banyak menggunakan efek CGI.

Kick
Gambar promo yang lebih heboh mengarah missleading.

Bagai roller-coaster, sebagai film Thailand yang biasanya memang harus berdurasi dua jam (mungkin setiap me-review film Thailand saya harus menyebutkan hal ini) The Kick terasa agak melelahkan dengan laju yang naik turun disertai beberapa clash yang dimasukan dalam film ini. Banyak memang dalam the kick yang memang terasa jenaka, namun kebanyakan terkesan dilucu-lucukan dengan menggunakan background musik bernuansa jenaka namun terasa malah terkesan memaksakan dan berlebihan. Penggunaan CGI yang berlebihan dalam film ini cukup mengganggu (termasuk eksekusi akhir yang menggunakan efek). Ditambah dengan bloopers yang membuat film ini jadi semakin janggal. Konklusi akhir juga terlihat membingungkan ketika Tae-yang akhirnya digambarkan akhirnya mememenangkan medali emas, sehingga membuat saya sempat bertanya-tanya apakah ia telah melupakan mimpinya sebagai penari atau bagaimana, walaupun hal itu lebih jelas ketika saya menonton film ini untuk kedua kalinya.

Dari akting, terutama dalam hal ini yang disorot adalah Na Tae-ju sebagai Tae-Yang tampil terlalu lemah sehingga unsur drama dari film ini pun terasa hambar. Selain akting dari pemerannya, karakterisasi dari Tae-yang pun terlampau lemah dan tidak konsisten sebagai tokoh utama (kalau memang bisa disebut sebagai tokoh utama). Bahkan sebagai utama yang nantinya menyelamatkan hari, dalam salah satu segmen, penonton bisa menerka kasar bahwa Tae-yang lebih lemah dari Wawa (Yanin “Jeeja” Vismitananda) ataupun Tae-mi.

Di luar rangkaian cela di atas “The Kick” tetap menampilkan aksi-aksi yang keren yang patut diacungi jempol baik dari koreografi dan kemampuan aktor-aktor dan para stuntmen dalam menunjukan aksi-aksinya seperti yang ditunjukan di behind the scene tambahan di akhir credit menjadikannya sebagai film keluarga yang cukup menghibur.

60

Studio: Sahamongkol Film International

Director: Prachya Pinkaew

 Producer: Gang Seong-gyu

Prime cast: Cho Jae-hun, Yea Ji-won, Na Tae-ju, Kim Kyeong-suk, Lee Gwan-hun

The Kick (2011)

Sebuah film yang harus saya tonton dua kali, yaitu ketika press-screening dan event nonbar BltizClub di malam pergantian tahun. Untuk selanjutnya mungkin sebulan sekali akan saya usahakan untuk me-review film-film nonbar, apalagi kalau nontonnya dua kali seperti ini, agak gimana kalau gak bisa ditulis gak? hmm..

The-kick-poster

“The Kick” dimulai dengan memperkenalkan dua pasangan Tae Kwon Doin, Moon (Cho Jae-hyun) dan Yun Mi-ja (Yea Ji-won) masih muda dan bertanding di arena Olimpiade. Bagi saya pribadi, sebagai penyuka tayangan olah raga dan film-film bertemakan olah raga, intro dalam di depan ini merupakan scene yang difavoritkan. Menggambarkan akan penjurian subjektif dan keculasan yang banyak terjadi dalam dunia olah raga bela diri. Secara khusus lagi, bagian awal ini mengingatkan pada kasus karateka Indonesia yang cukup mencoreng nama Indonesia dalam Sea Games lalu.

Cerita kemudian melaju jauh ke depan ketika keluarga Master Moon bermigrasi dari Korea ke Thailand karena suatu hal. Membalaskan cita-citanya yang tak terwujud ketika gagal meraih emas, digambarkan Moon memimpin keluarganya dengan keras, semi-militer. Suatu hari tanpa disengaja seluruh anggota keluarga, walaupun berada di dua tempat yang berbeda bergesekan dengan gembong pencuri Kris pusaka bernilai jutaan dolar (Kris jutaan dolar namun anehnya kemudian dipakai oleh sang kolektor untuk bertarung). Kris kemudian terselamatkan, namun gagalnya pencurian Kris pusaka telah menanamkan dendam bagi sang otak pencurian. Seperti peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, selain ingin niatan awalnya mencuri Kris terlaksana, ia pun ingin membalaskan dendam pada keluarga tersebut. Polemik berlanjut pada gesekan-gesekan selanjutnya yang juga melibatkan konflik dalam keluarga.

Dari plot resmi dan membandingkan dengan filmnya, dapat diasumsikan bahwa sejak awal pihak produksi ingin memaksakan “The Kick” ini memiliki keunikan dengan menampilkan empat gaya bela diri yang berbeda-beda. Namun di film ini, yang lebih ditonjolkan adalah gaya bela diri K-Pop yang dikuasai Tae-yang (Na Tae-ju) sedangkan gaya sepak bola yang dimiliki adiknya Tae-mi (Kim Gyeong-suk) hanya ditunjukan ketika sedang mendrible bola di dalam rumah, sang ibu yang disebut memiliki bela diri gaya peralatan dapur, terlihat seperti memakai peralatan-peralatan itu hanya dikarenakan situasi, bukan benar-benar karena ahli bela diri menggunakan peralatan dapur. Agak kontradiksi dengan intro di awal sang Ibu yang kita tahu merupakan juara olimpiade tidak terlihat kemampuannya di sini, padahal seharusnya cukuplah sang ibu menggunakan jurus-jurus Tae Kwon Do nya untuk melawan gerombolan penjahat. Dan kekuatan kepala sang anak terkecil hanya ditunjukan oleh kebiasaannya menyeruduk. Dengan kata lain tidak sesuai apa yang digambarkan di awal Jika memang mau menguatkan gaya-gaya unik bela diri dari masing-masing anggota keluarga mungkin tidak ada salahnya jika masing-masing secara eksplisit menyebutkan nama jurus atau mungkin menggunakan sedikit efek grafikal dibuat komikal, toh film ini sudah banyak menggunakan efek CGI.

Kick
Gambar promo yang lebih heboh mengarah missleading.

Bagai roller-coaster, sebagai film Thailand yang biasanya memang harus berdurasi dua jam (mungkin setiap me-review film Thailand saya harus menyebutkan hal ini) The Kick terasa agak melelahkan dengan laju yang naik turun disertai beberapa clash yang dimasukan dalam film ini. Banyak memang dalam the kick yang memang terasa jenaka, namun kebanyakan terkesan dilucu-lucukan dengan menggunakan background musik bernuansa jenaka namun terasa malah terkesan memaksakan dan berlebihan. Penggunaan CGI yang berlebihan dalam film ini cukup mengganggu (termasuk eksekusi akhir yang menggunakan efek). Ditambah dengan bloopers yang membuat film ini jadi semakin janggal. Konklusi akhir juga terlihat membingungkan ketika Tae-yang akhirnya digambarkan akhirnya mememenangkan medali emas, sehingga membuat saya sempat bertanya-tanya apakah ia telah melupakan mimpinya sebagai penari atau bagaimana, walaupun hal itu lebih jelas ketika saya menonton film ini untuk kedua kalinya.

Dari akting, terutama dalam hal ini yang disorot adalah Na Tae-ju sebagai Tae-Yang tampil terlalu lemah sehingga unsur drama dari film ini pun terasa hambar. Selain akting dari pemerannya, karakterisasi dari Tae-yang pun terlampau lemah dan tidak konsisten sebagai tokoh utama (kalau memang bisa disebut sebagai tokoh utama). Bahkan sebagai utama yang nantinya menyelamatkan hari, dalam salah satu segmen, penonton bisa menerka kasar bahwa Tae-yang lebih lemah dari Wawa (Yanin “Jeeja” Vismitananda) ataupun Tae-mi.

Di luar rangkaian cela di atas “The Kick” tetap menampilkan aksi-aksi yang keren yang patut diacungi jempol baik dari koreografi dan kemampuan aktor-aktor dan para stuntmen dalam menunjukan aksi-aksinya seperti yang ditunjukan di behind the scene tambahan di akhir credit menjadikannya sebagai film keluarga yang cukup menghibur.

60

Studio: Sahamongkol Film International

Director: Prachya Pinkaew

 Producer: Gang Seong-gyu

Prime cast: Cho Jae-hun, Yea Ji-won, Na Tae-ju, Kim Kyeong-suk, Lee Gwan-hun

INAFFF 2011: FISFIC 6 VOL. 1

Fisfic1

Tidak banyak film di INAFFF yang saya tonton tahun lalu, mungkin hanya satu atau dua. Namun dari yang sedikit itu ada yang istimewa ketika saya menonton “Monsters” film yang dipilih menjadi opening INAFFF 2010 dimana Rusly Edy atau akrab disapa Sly sang otak di balik INAFFF mengutarakan kekecewaannya ketika tidak ada film Indonesia yang tampil di INAFFF pada saat itu, ketika itulah ide tentang kompetisi ini diutarakan di depan umum. FISFIC (Fantastic Indonesian Short Film) merupakan kompetisi film pendek khusus genre fantasi (Horror, Thriller, Sci-Fi, Fantasy) diprakarsai oleh sineas dan aktivis perfilman, selain Sly sendiri ada Sheila Timothy, Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans dan Ekky Imanjaya. Ketika menyambut INAFFF 2011, saya pribadi sangat antusias dengan FISFIC ini mengingat sinopsis-sinopsis yang saya baca, idenya keren-keren banget. Namun bagaimanakah hasil eksekusinya? Idealnya sih tulisan ini dipublish sebelum pengumuman pemenang untuk menghindari bias penilaian subjektif pribadi terhadap yang sudah terpilih menang, namun dikarenakan satu dan lain hal maka baru jadi sekarang. Etapi draft-nya sudah dimulai sebelum pemenang pemenang kok, jadi nggak bias-bias banget. Ya sudalah ngelesnya, mulai saja review-nya :|

___________________________________________________

Fisfic3-1

Meal Time | Director: Ian Salim, Writer: Ian Salim dan Elvira Kusno.

Bercerita tentang Sutisna, Andre, dan Aziz (ya, mengingatkan kita pada tayangan lawak tertentu bukan? :D ) Para pentugas yang sedang ditugaskan menjaga sebuah rumah tahanan sementara beserta bus tahanan yang baru datang, dan satu persatu beberapa tahanan dan petugas terbantai secara misterius. Well, ini merupakan film pertama yang tampil di omnibus ini. Di awal-awal, film ini menyajikan intro yang baik, dengan dialog-dialog awal yang jenaka dengan alur lambat namun tampak menjanjikan, dilanjutkan dengan situasi yang cukup mencekam. Pun begitu bantuan akting Abimana Aryasatya yang di film sebelumnya tampil sangat baik sebagai Andi di “Catatan Harian Si Boy” tidak terlalu banyak menolong dikarenakan ide yang sederhana, plot yang cukup mudah ditebak dan twist yang biasa saja di ending-nya. ”Meal Time” pun hadir sebagai pembuka yang tidak mampu menggebrak penonton FISFIC.

60

___________________________________________________

Rengasdengklok | Director: Dion Widhi Putra. Writer: Yonathan Lim. Producer: Abdul R. Hermas Sudibya.

Bercerita tentang “Presiden dari suatu negara” dengan dikawal beberapa prajurit, bersiap memproklamasikan kemerdekaan suatu negara namun di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sesuatu yang mengerikan yang tidak pernah diceritakan sampai saat ini (paling nggak, sampai filmnya diputar). Secara tanggung, film ini berusaha mengaburkan latar, seperti di intro-nya menggunakan sebutan “suatu negara” tanpa menyebutkan “merk” dari negara itu dan juga penyebutan “Bapak Presiden” bagi karakter sang proklamator -suatu pengaburan yang digunakan film “Kala” yang menggunakan sebutan “Republik ini” dan “Presiden pertama”-. Pengaburan-pengaburan tersebut maksudnya baik sebenarnya jika dilakukan secara konsisten untuk mencegah (baca: ngeles) dari kemungkinan gugatan-gugatan para history-police (hmm ada gak istilah ini? haha), tinggal jawab “Lhaa kan filmnya gak nyebut ‘Indonesia’ anggep aja cerita tentang negara lain”. Tapi, mari kita sejenak kembali ke judulnya dan.. ya, film ini sudah terlanjur dengan spesifik menggunakan nama daerah di Karawang, Indonesia dan pada animasi yang digunakan dalam awal intro secara jelas menggunakan animasi berupa peta negara Indonesia dan selanjutnya secara tidak konsisten secara jelas sudah menyebut kata “Tentara Jepang” setelah sebelumnya berusaha mengaburkan nama negara Indonesia. Ditambah dengan akting dan dialog yang lebay dan dibuat-buat yang mungkin saja disengaja untuk menambah bumbu kejenakaan namun malah membuat yang menonton selain tertawa juga menaikan alis mata sebelah, dan memerosotkan posisi duduk. Film ini menjadi film yang idenya sungguh juara dan berhasil membuat banyak orang penasaran, terlebih sudah berani bermain dengan sejarah namun sayang kurangnya dalam pengeksekusian sehingga ketidaktahuan saya pribadi yang sebelumnya terhadap masalah utama di film ini pun tidak mampu mengangkat “Rengasdengklok”.

52

___________________________________________________

Reckoning | Director: Zavero Idris dan Katharina Vassar. Writer: Katharina Vassar

Suatu rutinitas yang biasa bagi suami istri di suatu rumah (err.. bukan rutinitas yang itu ya..) ketika sepasang suami istri berbincang di kamar, tiba-tiba datang sekawanan tidak dikenal datang ke rumah mereka membawa rahasia kelam dari masa lalu sang suami dan pada akhirnya membawa tumbal. Ketegangan dibangun dengan baik dari mulai kejar-kejaran di dalam rumah, dialog beradu watak, tumpahan darah dan juga dibumbui drama. Film yang sebelumnya diberi judul “Goblin” ini cukup bawel memang ketika banyak dialog yang membuat bingung ketika sang pemimpin gerombolan berbicara campur dengan bahasa Inggris yang celakanya disertai efek suara tertentu yang membuat dialog menjadi semakin tidak jelas yang sayangnya tidak disediakan subtitle di bagian tersebut. Namun set yang baik, drama dibumbui gore yang cukup disturbing “Reckoning” sebagai film ketiga dalam omnibus telah membangkitkan optimisme bagi penonton FISFIC setelah dua film pendek sebelumnya terasa kurang.

73

___________________________________________________

Fisfic3-2

Rumah Babi | Director: Alim Sudio. Writer: Harry Setiawan

Tema ‘rumah-rumahan’ (hmm ada gak nama tema macam begini? :p ) seolah tidak bisa lepas dari dunia horor/thriller setelah Rumah Dara di tahun 2009, Dream Home di INAFFF 2010 sebagai surprise movie, belakangan ada film Indonesia berjudul “The Perfect House”,dan masih banyak lagi, tema ‘rumah-rumahan’ pun turut hadir di FISFIC vol. 1 ini, yaitu melalui “Rumah Babi”. Bercerita tentang seorang pembuat film dokumenter yang harus melakukan wawancara langsung  untuk melengkapi materi film dokumenternya pada korban penyerbuan di rumah keluarga keturunan Cina yang juga merupakan rumah ternak dan pemotongan babi, dan di sanalah kengerian yang terjadi pada keluarga terebut berulang pada sesuatu yang disebut karma. Selama ini banyak pendapat yang beranggapan film horror yang setannya “banci tampil” itu ganggu dan malah bikin penontonnya tidak takut lagi, nggak kelas dan lain lain. Entah teori tersebut tidak berlaku pada film pendek, namun film ini telah meruntuhkan hal itu dengan penampakan yang sering terjadi namun tetap meneror. Film ini dengan singkatnya mampu menggambarkan teror yang sempat terjadi pada keluarga keturunan Cina pada waktu itu, dan di akhir secara eksplisit dan tidak dibuat-buat memberikan pesan moral dalam sebuah twist yang mengesankan. Walaupun jika kita melihat trailer dari FISFIC 6.1 pada potongan paling akhir terdapat bagian yang dapat membuat kita mengerenyitkan mata, ya itulah salah satu potongan adegan yang diambil dari “Rumah Babi” dari situ kita mengerti bahwa sebenarnya film ini memiliki kekurangan dari segi make-up. Pun begitu “Rumah Babi” mendapat tempat di hati penonton dan mendapat special mention pada INAFFF FISFIC 6.1 ini. Film yang begitu mencolok membuat saya tidak ragu berniat menepokan tangan ketika film akan selesai (walaupun ternyata bukan saya saja yang berpikiran demikian karena ada yang duluan di belakang saya sih :| #infopenting).

88

___________________________________________________

Effect | Director: Adriano Rudiman. Writer: Leila Safira dan Adriano Rudiman

Eva seorang karyawati yang sangat membutuhkan promosi merasa frustasi pada atasannya yang terus menghalangi karirnya. Pada suatu kesempatan Eva menemukan suatu situs yang menanyakan siapa yang ingin ia sakiti dan secara iseng ia pun memasukan nama atasannya itu, dengan selang waktu tertentu, dimulai dari hal-hal kecil yang sequential akan berujung pada kematian sasaran. “Effect”, lagi, juga merupakan salah satu judul yang mencuri perhatian saya. Selain memiliki sinopsis yang menarik, “Effect” juga disutradarai Adiano Rudiman, komikus “Komik Kambing Jantan” yang terbilang aktif mereview film di twitter atau kadang melalui ilustrasi menarik di blognya. Sayangnya “Effect” yang memiliki tema yang menarik walaupun tidak bisa dibilang benar-bnar orisinil, memiliki cela di bagian yang harusnya menjadi hal yang dapat ditonjolkan yaitu dibagian sequence kematian yang terlalu sederhana mengarah mengada-ada, dan juga akibat akhir dari kematian yang terlalu cetek. Memang sih, di akhir film ini memberi bumbu thriller-nya sendiri namun dari temanya dan sinopsis, sebenarnya bukan itu yang diinginkan dari film ini untuk ditonjolkan. Pun begitu dari teknik pemilihan casting dan akting, tetap harus mendapat pujian karena telah menghidupkan suasana khas perkantoran dengan orang-orang dengan masa krisis dan menyebalkan di dalamnya #bukanCurcol.

70

___________________________________________________

Taxi | Director: Arianjie AZ dan Nadia Yuliani. Writer: Arianjie AZ dan Nadia Yuliani

Suatu malam yang sepi, ketika seorang karyawati -yang entah benar atau tidak kemudian mengaku bernama Fina/Vina- pulang dari lembur panjangnya. Setelah menunggu lama (ntah menunggu dijemput atau menunggu taxi Blue Bird #bukapostberbayar) akhirnya memutuskan mengambil sebuah “Taxi tidak jelas” yang menghampirinya. Di tengah perjalanan “penghuni” taxi pun bertambah, memulai sebuah teror yang akan terjadi di dalamnya. “Taxi” hadir sebagai horror bertema sederhana yang berhasil memuaskan penontonnya, termasuk para juri ketika memutuskan memenangkan “Taxi” sebagai pemenang utama di FISFIC 6.1 ini. Dimulai dengan rangkaian adegan yang lambat, dan berputar-putar, sama seperti jalur yang dilalui si Taxi sebelum mengalami teror tersebut yang membuat penonton-penonton sok tahu seperti saya menebak-nebak yang akan terjadi selanjutnya. Ditambah lagi dengan sedikit “service” yang diolah dengan pintar namun tidak dibuat vulgar murahan dan diakhiri suatu hal yang masih menjadi misteri dan dapat diperdebatkan oleh para movie-buffs yang menonton. Dari casting dan make-up “Taxi” juga terbilang mantab, dimulai dari si pemeran taxi bertampang dan bersuara ‘ganggu’, bantuan akting dari Shareefa Daanish sebagai dara polos panikan, dan efek make-up keren membuat film ini menjadi akhir yang keren sekaligus menyenangkan di FISFIC edisi 6.1 ini.

82

___________________________________________________

Meragukan memang jika enam film di atas benar-benar enam film terbaik diantara 25 atau malah ratusan naskah yang dikumpulkan. Namun pasti juri-juri yang tidak bisa lagi diragukan kompetensinya itu memiliki pertimbangan sendiri ketika memilih film di atas, diantaranya pembagian tema yang berbeda-beda, seperti tema zombie-zombiean, horror hantu, dan lainnya yang dipilih dengan cerdik di FISFIC 6.1 ini. Seperti halnya memilih 11 pemain untuk diturunkan untuk sebuah pertandingan sepak bola sebenarnya bukan 11 terbaik yang dipilih, namun menyesuaikan kebutuhan. Selamat bagi para pemenang yang sudah mendapat kesempatan mewujudkan filmnya di layar INAFFF dan DVD nya dijual di pasaran. Dapat dimengerti dari awal memang jika para peserta merupakan filmmaker pemula yang dengan budget yang amat terbatas harus membuat film yang nantinya akan diputar di kalangan penonton INAFFF yang di antaranya merupakan orang-orang bawel banyak komentar adalah suatu yang sangat menyulitkan. Namun boleh lah, sebagai penonton kita mengharap FISFIC di tahun depan (jika ada) atau karya-karya mereka selanjutnya bisa lebih baik lagi nantinya.

Score overall (bukan rata-rata keenam film)

72

Referensi lain: http://movienthusiast.com/2011/11/review-fisfic-6-vol-1-2011/http://adithiarangga.files.wordpress.com